04 Oktober 2021

Laporan Praktikum "TITRIMETRI" Bagian I

Posted by Kayuya on 21.44.00 with No comments

 Laporan Praktikum Bagian I

"TITRIMETRI"

Halo pejuang colap, masih semangat kan kuliahnya?

Capek ya? Sama, saya juga 😂. Semoga kalian masih tetap semangat, ya. Jangan kasih kendor. Satu lagi colap yang masih tersmpan di file laptop saya, semoga bisa adik-adik jadikan refrensi dalam membuat laporan praktikum. Jalani praktikum dengan baik, karena semua ini akan berlalu suatu saat nanti. Jadi contoh laporan ini saya jadikan dua bagian karena terlalu panjang, kalau mau diedit lagi susah. Untuk bagian II bisa lihat di Laporan "TITRIMETRI" Bagian II. 



A.    Judul Percobaan

Titrimetri

 

B.     Tujuan Percobaan

Mahasiswa diharapkan mampu untuk mengetahui:

1.      Cara penentuan karbonat dan pembuatan larutan standar HCl

2.      Cara menstandarisasi HCl

3.      Cara penentuan campuran karbonat dan bikarbonat.

 

C.    Landasan Teori

Konsentrasi biasanya dinyatakan sebagai (sebagai contoh) 1 M (1,026) atau 0,5 M (0,998). Konsentrasi nominal dinyatakan sebagai molaritas, sementara angka di dalam kurung merupakan faktor (f) larutan. Faktor suatu larutan volumetrik menunjukkan besarnya perbedaan antara kekuatan larutan yang diberikan dengan nominalnya atau kekuatan yang diinginkan. Larutan yang pertama di atas sedikit lebih kuat dari 1 M karena nilai faktor lebih besar dari 1,000. Larutan yang kedua sedikit lebih  lemah dari 0,5 molar karena nilai faktor kurang dari 1,000 memiliki kekuatan yang tetap sesuai dengan molaritas yang tertera. Faktor digunakan dalam analisis volumetrik karena dapat menyederhanakan perhitungan (tujuan yang diinginkan dalam hal apa pun) (Cairns. 2009:126).

Analisis kimia memegang peranan yang penting dalam bidang kedokteran. Jenis dan kadar senyawa-senyawa kimia yang ada dalam sampel (contoh) cairan intrasel, cairan ekstrasel, atau organ-organ tubuh yang lain dapat diketahui dengan analisis secara kimia. Selain itu, analisis kimia dapat digunakan untuk pemeriksaan obat-obatan, makanan, minuman, dan bahan-bahan kimia yang apabila berkontak dengan tubuh atau masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu kesehatan. Dalam laboratorium klinik, banyak dilakukan pemeriksaan secara kimiawi, misalnya pemeriksaan kadar glukosa, kolesterol, trigliserida, asam urat, kreatinin, natrium, kalium, kalsium dalam darah atau pemeriksaan protein, glukosa, bilirubin, dan urobilinogen dalam urine. Hasil pemeriksaan ini dapat dipakai oleh dokter untuk menentukan langkah selanjutnya dalam pengobatan pasien. Pada dasarnya, analisis imia dapat dilakukan dengan (a) analisis kualitatif yang bertujuan untuk mencari jenis ion, molekul, atau radikal yang terdapat dalam sampel; (b) analisis kuantitatif yang bertujuan untuk menentukan kadar ion atau molekul dalam suatu sampel; (c) analisis instrumental, yakni analisis kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan peralatan elektronik (Sumardjo.:4).

Analisis titrimetri (hingga kini sering dinamai analisis volumetri), zat yang akan ditetapkan dibiarkan bereaksi dengan suatu reagensia yang cocok yang ditambahkan sebagai suatu larutan baku, dan volume larutan yang diperlukan untuk mengakhiri reaksi ditetapkan. Tipe yang biasa digunakan dalam titrimetri adalah (a) reaksi penetralan (asam basa); (b) reaksi pembentukan-kompleks; (c) reaksi pengendapan; (d) reaksi oksidasi-reduksi (Bassett, Dkk. 1994:6)

Dalam setiap metode titrimetri selalu terjadi reaksi kimia antara komponen analit dengan zat pendeteksi yang disebut titran. Rekasi dasar antara komponen analit dengan titran dinyatakan dengan persamaan umum:

aA + tT → produk

“a” adalah jumlah mol analit (A) yang bereaksi secara stoikiometri dengan “t” mol titrab (T) atau “a” dan “t” menggambarkan koefisien reaksi dalam persamaan reaksi setaranya. Analit adalah komponen dari larutan sampel yang hendak ditetapkan kuantitasnya. Titran adalah larutan standar yang telah diketahui dengan tepat konsentrasinya. Titran ditambahkan ke dalam larutan analit menggunakan peralatan khusus yang disebut buret sampai jumlah tertentu hingga tercapai titik ekivalen yang umumnya ditandai oleh perubahan zat tertentu yang sengaja dimasukkan ke dalam larutan anallit yang dikenal sebagai indikator. Perubahan indikator terjadi bila semua analit telah bereaksi dengan titran. Kelebihan sedikit titiran bereaksi dengan indikator, sehingga terjadi perubahan pada indikator, yang biasanya ditunjukkan oleh perubahan warna. Kelebihan titran diupayakan sekecil mungkin mealui penambahan titran tetes demi tetes agar tercapai kesalahan sekecil mungkin (Ibnu, DKK. 2004:93).

Istilah ekivalen bertujuan untuk mempermudah perhitungan stoikiometri dalam titrimetri. Kita telah melihat bahwa titrasi melibatkan penambahan titran sampai jumlahnya secara kimiawi ekivalen dengan analit dan pada titik ini disebut titik ekivalen (equivalence point, EPt). Pada EPt jumlah mol analit dan titran mungkin saja sama dan mungkin juga tidak. Ekivalen akhirnya didefinisikan pada EPt ekivalen dari analit dan titran selalu sama. Berat gram-ekivalen (yang biasa disingkat berat ekivalen, BE) dari sebuah asam atau basa didefinisikan dengan 1 mol H+ (1,008 g). BE dari substansi tersebut dinamakan ekivalen (eq), sama seperti BE yang dinamakan mil. Satu millli ekuivalen (meq) adalah seperseribu dari satu ekivalen (Underwood & Day. 2002:57).

Analisa volumetri merupakan salah satu metode analisa kwantitatif, yang sangat penting penggunaannya dalam menentukan konsentrasi zat yang ada dalam larutan. Keberhasilan analisa volumetri ini sangat ditentukan oleh adanya indikator yang tepat sehingga mampu menunjukkan titik akhir titrasi yang tepat. Kurkumin, zat warna yang terkandung dalam umbi tanaman kunyit (Curcuma domestica val.) ternyata mampu berfungsi sebagai indikator karena terjadinya perubahan warna dari kuning muda coklat menjadi coklat pada pH sekitar 4,5 – 9,9 (Harjanti. 2008:49). Pengaruh ukuran butir kunyit memaparkan bahwa ukuran serbuk kunyit yang semakin kecil ternyata akan menghasilkan kurkumin yang semakin banyak. Hal ini disebabkan pada ukuran butir semakin kecil akan memudahkan pelarut dalam melarutkan minyak atsiri, beserta zat warna, resin, dan zat-zat lain seperti protein dan waxe yang terkandung dalam serbuk kunyit. Kurkumin dengan kadar 5,158 mg/mL diencerkan dengan pelarut alkohol (berdasarkan persen volume) dalam berbagai variasi. Hasil yang diperoleh digunakan sebagai indikator titrasi, untuk mengetahui seberapa banyak kurkumin yang digunakan, agar perubahan warna pada saat akhir titrasi terlihat jelas (Harjanti. 2008:52).

Peningkatan kadar logam berat dalam air laut akan diikuti peningkatan kadar logam berat dalam biota laut yang pada gilirannya melalui rantai makanan akan menimbulkan keracunan akut dan khronik, bahkan bersifat karsinogenik pada manusia konsumen hasil laut (Keman, 1998). Penelitian yang telah dilakukan oleh Pikir (1993) dengan metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA) menyimpulkan bahwa kerang yang berasal dari Pantai Kenjeran Suraba ya, mengandung logam berat Cadmium (Cd) sebesar 1,22 ppm dan kerang dari Pantai Keputih Surabaya, mengandung 1,09 ppm logam berat Cadmium. Penelitian lain yang dilakukan dengan metode yang sama oleh Moesriati (1995) terhadap beberapa jenis ikan dan kerang di Pantai Kenjeran Surabaya menyatakan bahwa kadar logam berat Cadmium dalam daging kerang adalah 1,21 ppm (Sari, 2005:124-125).

 

D.    Alat dan Bahan

1. Alat

a.       Gelas Kimia 50 mL                                  3 buah

b.      Labu Erlenmeyer 250 mL                         9 buah

c.       Labu Takar 100 mL                                  1 buah

d.      Pipet volume 25 mL                                 1 buah

e.       Ball pipet                                                  1 buah

f.        Corong Biasa Kecil                                   1 buah

g.      Neraca Analitik                                         1 buah

h.      Corong Biasa                                            2 buah

i.        Pipet tetes                                                  3 buah

j.        Batang pengaduk                                      1 buah

k.      Statif dan klem                                          2 buah

l.        Spatula                                                      1 buah

m.    Botol semprot                                           1 buah

n.      Lap kasar dan lap halus                            1 buah

o.      Gelas ukur 10 mL                                     1 buah

p.      Sikat tabung                                              1 buah

q.      Gelas Ukur 50 mL                                    1 buah

2. Bahan

a.       Larutan Asam Klorida (HCL) 0,1 N 235,3 ml

b.      Indikator metil orange 6 tetes

c.       Barium Klorida (BaCl2) 10 %  3 tetes

d.      Aquades (H2O) 100 ml

e.       Larutan sampel Campuran Karbonat dan Bikarbonat (HCO3- dan CO32-) 50 ml

f.        Boraks (Na2B4O7.10 H2O) 0,4 gram

g.      Kertas Saring

h.      Tissu

 

E.     Prosedur Kerja

1. Standarisasi HCl

a.    Menimbang 0,406 gram boraks dan melarutkannya ke dalam aquades hinnga 100 mL di dalam labu takar.

b.    Mengambil 25 ml (dengan pipet volume) larutan boraks dan memasukkan ke dalam Erlenmyer kemudian menambahkan 1 tetes indikator metil orange.

c.    Menitrasi larutan dengan larutan standar sampai terjadi perubahan warna kuning menjadi orange kemudian mencatat volume titran

d.    Mengulangi cara kerja 2 sampai 3 sebanyak 3 kali dan dicatat volume rata-rata titran.

e.    Menghitung konsentrasi HCl standar, 

2. Penentuan campuran karbonat dan bikarbonat

a.    Mengambil 25 ml larutan sampel campuran, menambahkan 1 tetes indikator MO, dititrasi dengan larutan HCl standar 0,1 N

b.    Mengulangi cara kerja (1) sebanyak 3 kali , dan mencatat volume titran rata-rata sebagai V1 (ml).

c.    Mengambil 25 ml larutan sampel campuran

d.    Menambahkan 1 tetes larutan BaCl2 10% sampai tidak terbentuk endapan lagi.

e.    Membiarkan endapan turun,  menyaring kemudian menitrasi filtrat dengan larutan HCl standar 0,1 dengan indikator MO sebanyak 1 tetes.

f.     Mengulangi cara kerja (3) sebanyak 2 kali di catat volume rata-rata titran sebagai V2 (ml).

g.    Menghitung kadar karbonat dan bikarbonat dalam sampel.

 

Untuk bagian hasil pengamatan, analisis data dan pembasa baca Di sini

 

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J. Denney, R.C. Jeffery, G.H. Mendham. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran

Cairns, Donald. 2004. Intisari Kimia Farmasi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

Harjanti, Sri, Ratna. 2008. Pemungutan Kurkumin dari Kunyit (Curcuma domestica val.) dan Pemakaiannya Sebagai Indikator Analisis Volumetri. Jurnal Rekayasa Proses. Vol. 2, No. 2. Yogyakarta

dan Pemakaiannya Sebagai Indikator Analisis Volumetri

Ibnu, Sodiq. Dkk. 2004. Common Textbook Kimia Analitik 1. Malang: Universitas Negeri Malang

Sari, Indah, Fitri. Soedjajadi, Keman. 2005. Efektifitas Larutan Asam Cuka. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.1, No.2.

Sumardjo, Damin. . Pengantar Kimia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

Underwood dan Day. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga.

 

 

21 Maret 2021

Membuat Beberapa Format Halaman dalam Satu Dokumen Microsoft Word

Posted by Kayuya on 08.39.00 with No comments

Membuat Beberapa Format Halaman dalam Satu Dokumen Microsoft Word

Oleh : Kayuya


        Umumnya kita membuat dokumen dengan microsoft word menggunakan kertas A4, tetapi terkadang ditengah-tengah halaman dokumen kita perlu menyisipkan gambar atau tabel dengan jumlah kolom yang lebih banyak sehingga kita memerlukan kertas format F4/folio dengan bentuk landscape. Kali ini saya akan membagikan cara memnggabungkan dua format halaman dalam satu dokumen word 2016.

 adapun langka-langkanya adalah sebagai berikut:

1.  Pada menu Bar, pilih menu layout.

2. Letakaan kursor pada halaman word yang ingin diubah ukurannya.

3. Pilih menu Size, lalu atur sesuai dengan gambar berikut.

4. Setelahnya, kita harus merubah format paper dari yang awalnya potrait menjadi landscape pada menu orientation.
5. Setelahnya paper akan berubah menjadi dua ukuran yang berbeda seperti gambar berikut.
 
 
Bagaimana? cukup mudah bukan? Jangan lupa untuk mempraktikkan tutorial di atas ya. Sampai jumpa di artikel yang lain. See you 😁


14 Maret 2021

Mengenal Microsft Word

Posted by Kayuya on 20.21.00 with No comments

Mengenal Microsft Word 

Oleh : Kayuya

        Berbicara soal microsoft word, tentu sudah tidak asing lagi untuk kita. Di zaman yang semakin modern seperti sekarang, fungsi dari aplikasi yang satu ini sangat besar perannya dalam kehidupan kita, entah itu untuk urusan surat menyurat, membuat laporan, hingga tugas sekolah. Tapi, kalian tahu tidak mengenai sejarah microsoft word dan siapa orang genius yang berhasil menciptaka aplikasi yang satu ini. Mari sama-sama kita bahas.

        Microsoft Word merupakan perangkat lunak pengolah kata terbaik dan terpopuler di dunia. Microsoft Word atau Microsoft Office Word atau Word adalah perangkat lunak pengolah kata (word processor) andalan Microsoft. Pertama diluncurkan ke publik pada bulan oktober 1983 dengan nama Multi-Tool Word. Dalam versi pertama tersebut rupanya microsoft word dikembangkan oleh mantan programmer Xerox yaitu Charles Simoyi dan Richard Brodie. Keahlian mereka disewa oleh pendiri microsoft yakni Bill Gates pada tahun 1981 silam.

        Versi-versi lain kemudian dikembangkan untuk berbagai sistem operasi, misalnya DOS (1983), Apple Macintosh (1984), SCO UNIX, OS/2, dan Microsoft Windows (1989). Setelah menjadi bagian dari Microsoft Office System 2003 dan 2007 diberi nama Microsoft Office Word. Saat ini, Microsoft Word juga tersedia di berbagai jenis sistem operasi. Aplikasi ini telah didistribusikan di sistem operasi Microsoft Windows, Mac OS, IOS, dan Android. Wow, cukup panjang juga ya sejarahnya.

        Baik, kita lupakan soal sejarah. Untuk memudahkan kita mengoprasikan microsoft word tentu kita harus tahu fungsi dari fitur-fitur yang tersedia bukan? Langsung kita bahas.

 

Microsoft Office Button 

Apabila tombol ini diklik maka akan muncul beberapa pilihan yaitu :
a. New    : berfungsi untuk membuat dokumen baru.
b. Open   : berfungsi untuk membuka dokumen yang telah dibuat.
c. Save    : berfungsi untuk menyimpan dokumen yang telah dibuat.
d. Save as : berfungsi untuk menyimpan dokumen yang telah dibuat dengan nama berbeda.
e. Print     : berfungsi untuk mencetak dokumen.
f. Prepare : berfungsi untuk mempersiapkan dokumen.
g. Send     : berfungsi untuk mengirim dokumen.
h. Publish : berfungsi untuk mentransfer dokumen.

Menu Bar

        Menu bar bisa dibilang sama seperti menu horizontal pada blog, yang mempunyai sub-sub menu. Menu bar terdiri atas Home, Insert, Page Layout, References, Mailings, Review, dan View. Jendela ini umumnya berisi menu tool dan fitur lainnya yang memiliki fungsi tertentu. 

Menu Home

        Pada menu home ada 5 group yaitu group clipboard, font, paragraph, style dan editing. Masingmasing dikelompokkan berdasarkan fungsi dasarnya. Untuk group clipboard kita bisa melakukan fungsi cut, copy, paste dan format painter. Group font digunakan untuk mengubah jenis huruf, tebal-tipis huruf, italic, underline, ukuran dan warna huruf. Pada group paragraph, dibagian ini adalah fasilitas untuk membuat paragraf kalian menjadi lebih menarik sesuai yang kalian inginkan.

        Baiklah, sekian informasi yang bisa saya bagi ke kalian mengenai Microsoft Word. Jangan lupa untuk membaca artikel lain di blog ini, sampai jumpa di tulisan saya yang lain.

 

30 November 2020

Laporan "Aluminium dan Senyawanya"

Posted by Kayuya on 23.50.00 with No comments

Laporan Praktikum Kimia Anorganik

Penyusun : Kayuya

 
 A.    JUDUL PERCOBAAN 

Aluminium dan Senyawanya

 

B.     TUJUAN PERCOBAAN

Mempelajari sifat-sifat logam aluminium dan persenyawaannya.

 

C.     LANDASAN TEORI

1.      Tinjauan Pustaka

Golongan logam-logam utama s yaitu golongan 1 (alkali) dan golongan 2 (alkali tanah). Golongan logam utama, p meliputi golongan 13 (aluminium, gallium, indium, talium), golongan 14 (timah, timbel), dan golongan 15 (bismuth). Secara umum logam-logam golongan p kiurang reakstif ketimbang logam-logam golongan s. Nama alumuminium diturunkan dari kata alum yang menunjuk pada senyara garam rangkap KAl (SO4)2.12H2O; kata ini berasal dari bahasa latin alumen yang artinya garam pahit. Oleh Humpry Davy, logam dari garam rangkap ini disulkan dengan nama aluminium dan kemudian bertambah menjadi aluminium. Namun, nama inipun segera termodifikasi menjadi aluminium yang menjdai popular di seluruh  dunia kecuali  di Amerika Utara di mana American Chemical Society (Himpunan Masyarakat Kimia Amerika) pada tahun 1925 memutuskan tetap menggunakan istilah aluminium di dalam publikasinya (Sugiyarto, 2006: 121- 123).

Aluminium adalah logam putih, yang liat dan dapat ditempa; bubuknya berwarna abu-abu. Ia melebur pada 659oC. bila terkena udara, objek-objek aluminium teroksidasi pada permukaannya, tetapi lapisan oksidasi ini melindungi objek dari oksida lanjut. Asam klorida encer dengan mudah melarutkan logam ini, pelarutan lebih lambat dalam asam sulfat encer atau asam nitrat encer:

2Al  +  6H+  →  2Al3+ + 3H2

proses pelarutan dapat dipercepat dengan menambahkan sedikit merkurium (II) klorida pada campuran. Asam klorida pekat juga melarutkan aluminium:

2Al  +  6HCl  →  2Al3+  +  3H2  +  6Cl

asam sulfat pekat melarutkan aluminium dengan membebaskan belerang dioksida:

2Al  +  6H2SO4  →  2Al3+  +  3SO42-  +  3SO2  +  6H2O

asam nitrat pekat membuat logam menjadi pasif. Dengan hidroksida alkali, terbentuk larutan tetrahidroksoaluminat:

2Al  +  2OH-  +  6H2O  →  2[Al(OH)4]-  +  3H2

aluminium adalah tervalen dalam senyawa-senyawa  ion-ion aluminium (Al3+) membentuk garam-garam yang tak berwarna dengan anion–anion yang tak berwarna. Halida, nitrat dan sulfatnya larut dalam air; larutan ini memperlihatkan reaksi asam karena padat saja, dalam larutan air ia terhidrolisis dan terbentuk aluminium hidroksida, Al(OH)3. Aluminium sulfat membentuk garam-garam rangkap dengan sulfat dari kation-kation monovalen dengan bentuk bentuk Kristal yang menarik, yang disebut tawas (alum,aluin) (Svehla, 1979: 266).

Aluminium sangat berlimpah terdapat di alam, merupakan logam terbanyak di kerak bumi dan terbanyak ketiga setelah oksigen dan silikon.  Karena sangat reaktf khususnya dengan oksigen, unsur aluminium tidak pernah dijumpai dalam keadaan bebas di alam, melainkan sebagai senyawanya yang merupakan penyusun utama  dari bahan tambang biji bauksit dalam bentuk campuran oksida-hidroksida aluminium. Bauksit adalah larutan aluminium yang terjadi karena iklim alam setempat. Di daerah dengan iklim temperature seperti di Eropa-mediteran, bauksit terutama terdapat sebagai AlO(OH) atau Al2O3.H2O, aluminium oksida monohidrat, sedangkan di daerah tropic umumnya terdapat sebagai Al(OH)3 atau Al2O3.3H2O, aluminium oksida terhidrat. Rumus umum bauksit yaitu AlOx(OH)3 2x (0<x<1). Bauksit sangat mudah ditambang karena mineral ini terdapat sebagai lapisan yang luas dengan ketebalan 3-10 meter dekat permukaan tanah (Sugiyarto, 2006: 127).

Paduan silumin-silumin adalah paduan aluminium yang mengandung silicon sekitar 4% dan 22%. Silumin memiliki ketahanan korosi yang tinggi, sehingga silumin sangat bermanfaat  dalam peralatan basah. Penambahan silokon pada aluminium membuat silumin lebih cair. Silumin sangat baik kecairannya, mempunyai permukaan yang bagus, tanpa kegetasan panas, sangat baik unutuk paduan coran, dan koefisien pemuaian yang kecil. Koefisien pemuaian silumin rendah, oleh karena itu paduannya pun mempunyai yang rendah apabila ditambahkan Si lebih banyak (Abdilah.2019:43)

Aluminium dengan konfigurasi elektronik [10Ne] 3S1 3P1 dikenal mempunyai tingkat oksidasi +3 dalam senywanya. Logam aluminium tahan terhadap korosi udara, karena reaksi antara logam aluminium dengan oksigen udara menghasilkan oksidanya, Al2O3 yang membentuk lapisan nonpori dan membungkus permukaan logam hingga tidak terjadi reaksi lanjut. Lapisan dengan ketebalan 10-4 sampai 10-6 mm sudah cukup mencegah terjadinya kontak lanjut permukaan logam dengan oksigen. Hal ini dapat terjadi karena ion oksigen mempunyai jari-jari ionik (124 pm) tidak jauh berbeda dari jari-jari metalik atom aluminium (68 pm) tepat menempati rongga-rongga struktur permukaan oksida. Hal ini berbeda dari oksida besi yang bersifat berpori, tidak mampu melindungi bagian dalam logam besi sehingga korosi terus berlanjut (Sugiyarto, 2006: 123).

            Manfaat lain yang istimewa bagi logam aluminium yaitu afnitasnya (daya gabung) yang sangat kuat dengan oksigen. Sebagai contoh, reaksi serbuk aluminium dengan oksida-oksida logam transisi Fe2O3 juga dihasilkan panas yang sangat tinggi:

Al(s)  +  Fe2O3 (s)  →   Al2O3 (l)  +  Fe (l)            H= -852 KJ/ mol

reaksi inti (reaksi termit) dapat menghasilkan panas yang sangat tinggi hingga temperatur kira–kira 300oC. (Sugiyarto, 2006: 125).

 

2.      Tinjauan Hasil

Aluminium sulfat [Al(SO4)3] atau yang lebih dikenal dengan tawas merupakan salah satu bahankimia yang sangat diperlukan dalam industri pengolahan air. Kebutuhan aluminium sulfat selama ini diimpor dari luar negeri misalnya dari singapura dan Australia dengan harga yang sangat mahal, sedangkan kebutuhannya cukup banyak, industri yang menggunakan aluminium sulfat diantarantya adalah industry kosmetik dan industri bahan pemadaman api. Perkembangan penduduk Indonesia yang semakin pesat dan penggunaan air semakin banyak, penggunaan aluminium semakin banyak. Pada penelitian ini, derajat keasaman produk aluminium sulfat dihitung dengan menggunakan pH meter, berdasarkan pengukuran, ph aluminium sulfat yang diperoleh pada penelitian ini adalah berkisar anta 3,15- 3,2. Dari literatur diperoleh pH standar dari produk aluminium  sulfat adalah sebesar 2,6- 3,3 (Ismayanda, 2011: 44-51).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa aluminium terkorosi dalam larutan asam sitrat menjadi Al3+ dengan satu tahapan  reaksi searah. Produknya bersifat tidak stabil, langsung membentuk garam aluminium amorf. Laji korosi aluminium meningkat seiring dengan peningkatan temperature dan konsentrasi asam sitrat, seperti dijelaskan secara matematik pada proses low equation (PLE), maupun pada fitled equation (FE). Energi aktivasi korosi aluminium di dalam larutan asam sitrat bernilai temperatur 40-60 oC, laju korosi aluminium dapat digolongkan pada laju korosi “dapat diabaikan” (kurang dari mpy) hingga “sedang” (20-50 mpy) (Prasetya, 2012:123).

Untuk mengurangi sifat-sifat mekanis dari paduan aluminium casting dengan alasan (i) pengotor memberikan pengaruh lain pada mikrostruktur paduan (misalnya mereka juga muncul sebagai partikel intermetalik yang rapuh dan dapat mempengaruhi Ukuran dan distribusi partikel Si), dan (ii) ada cacat lain yang lebih kuat membatasi partikel Si yang tampaknya tidak dipicu oleh kehadiran Fe, Ti, atau pengotor lainnya. Alur, yang ditunjukkan di sini tidak berkorelasi dengan adanya endapan intermetalik, adalah salah satu contoh penting. Dalam paduan aluminium, adalah salah satu pengotor paduan utama (kadang-kadang juga digunakan sebagai elemen paduan yang disengaja dalam paduan Al-Si hipereutektik (Mueller, dkk. 2016:865).

      

D.    ALAT DAN BAHAN

1.      Alat

a.       Tabung reaksi                                            (17 buah)

b.      Batang pengaduk                                     (2 buah)

c.       Gelas ukur 10 mL                                     (2 buah)

d.      Gelas kimia 25 mL                                   (1 buah)

e.       Rak tabung reaksi                                     (1 buah)

f.        Pembakar spiritus                                      (1 buah)

g.      Penjepit tabung                                         (1 buah)

h.      Botol semprot                                           (1 buah)

i.        Pipet tetes                                                 (5 buah)

j.        Corong biasa                                             (1 buah)

k.      Spatula                                                      (1 buah)

l.        Neraca analitik                                          (1 buah)

m.    Lap kasar dan lap halus                             (1 buah)

2.      Bahan

a.       Aluminium klorida (AlCl3)

b.      Ammonia (NH3)

c.       Natrium hidroksida (NaOH)

d.      Asam klorida encer (HCl)

e.       Aquades (H2O)

f.        Metil violet

g.      Aluminium klorida anhidrat (AlCl3.2H2O)

h.      Magnesiumium klorida anhidrat (MgCl2.2H2O)

i.        Indikator universal

j.        Aluminium oksida (Al2O3)

k.      Magnesium oksida (MgO)

l.        Natrium hidroksida (NaOH) 0,1 M

m.    Magnesium klorida (MgCl2) 0,1 M

n.      Tissue

 

E.     PROSEDUR KERJA

1.      Sifat aluminium hidroksida.

a.       Diukur 2 ml larutan garam aluminium, lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemuidan ditambahkan beberapa tetes ammonia. Diamati apa yang terjadi. Diteruskan penambahan ammonia hingga berlebih. Diamati apakah ada perubahan?

b.      Diukur 2 ml larutan garam aluminium, lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemuidan ditambahkan beberapa tetes NaOH. Endapan yang terjadi dibagi dua bagian. Bagian pertama, ditambahan NaOH berlebih sedangkan bagian kedua, ditambahan asam klorida. Diamati apa yang terjadi.

c.       Disediakan endapan aluminium hidroksida dengan cara mereaksikan larutan garam aluminium dengan larutan NaOH encer, endapan yang terbentuk disaring, kemudian endapan yang ada di kertas saring dicuci dengan air dingin(dituangi dengan air dingin). Kepada endapan diatas kertas saring itu diulangi dengan larutan yang berwarna, misalnya metal violet, diamati apa yang terjadi!

2.      Membandingkan aluminium klorida dengan magnesium klorida.

a.       Pemanasan klorida anhidrat: dipanaskan aluminium klorida anhidrat dalam tabung reaksi. Diamati apa yang terjadi! diulangi percobaan menggunakan magnesium klorida anhidrat sebagai pengganti aluminium klorida anhidrat. Diamati apa yang terjadi!

b.      Dimasukkan satu sendokaluminiumjklorida anhidrat ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan air setetes demi setetes. Diamati dan diukur pHnya dengan menggunakan indikator universal. Diulangi percobaan dengan magnesium klorida anhidrat sebagai pengganti aluminium klorida anhidrat.

3.      Membandingkan sifat asam-basa Al2O3 dan MgO.

a.       Dimasukkan kurang lebih 0,1 g aluminium oksida dan o,1 g magnesium oksida dalam tabung reaksi yang berbeda, kemudian ditambahkan 3 ml air dan dikocok. Diamati apa yang terjadi dan diperiksa pula pHnya!

b.      Dimasukkan kurang lebih 0,1 g aluminium oksida dan 0,1 g magnesium oksida dalam tabung reaksi yang berbeda, kemudian ditambahkan 3 ml asam klorida encer.

4.      Membandingkan sifat basa ion aluminium dan ion magnesium.

a.       Dituangkan 3 ml larutan garam aluminium 0,1 M ke dalam tabung reaksi dan ke dalam garam aluminium 0,1 M ke dalam tabung reaksi dan ke dalam tabung yang lain 3 mL larutan garam magnesium  0,1 M. diperiksa pH setiap larutan dengan indikator universal.

b.      Ditambahkan larutan encer natrium hidroksida pada 3 mL larutan garam aluminium 0,1 M sehingga endapan yang terbentul larut lagi.

c.       Diulangi percobaan (4.b) diatas dengan menggunakan larutan garam magnesium 0,1 M sebagai pengganti larutan garam aluminium 0,1 M


 

DAFTAR PUSTAKA

Abdilah, Adi.2019. Aluminium si Kuat dan Awet. Cirebon : Mirnaw Book

 

Ismayanda, M Husin. 2011. Produksi Aluminium Dalam Larutan Asam Sulfat Dalam Reactor Berpengaduk Menggunakan Proses Kering. Jurnal Rekayasa Kimia Dan Lingkungan Vol.8 No.1 Aceh: Universitas Syiah.

 

Mueller, Guillermo, Martin. Fornabaio. Mortensen. 2016. Silicon Particle Pinhole Defects in Aluminium–Silicon Alloys. J Mater Sci. Vol. 52, No. 858–868

 

Prasetya, Adreas Yoppy Aprianto, Isdiayani Nurdin. 2012. Korosi Aluminium dalam Larutan Asam Sitrat. Jurnal Teknik Kimia Indonesia:  Vol 11 No.2. Bandung: Institut Teknologi Bandung

 

Sugiyarto, Kristian H. 2006. Kimia Anorganik II. Malang: Jica

 

Svehla. 1979. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimikro Edisi Kelima. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka.