29 Oktober 2019

Alasan "Mengapa Saya Harus Menulis?"

Posted by Kayuya on 14.33.00 with No comments
Alasan "Mengapa Saya Harus Menulis"
Oleh : Kayuya



 

Beberapa hari ini saya dibuat bingung dengan pertanyaan “Mengapa saya harus menulis?”. Sebenarnya saya sudah tidak ingat apa alasan awal saya sehingga mau menjadi seorang penulis. Sedari pagi saya mencoba mem-flasback ingatan saya untuk menemukan lagi alasan tersenut, sampai pada sore ini saya kembali teringat dengan satu hal yang membuat saya mulai menulis untuk pertama kali.
Untuk artikel kali ini saya, akan bercerita tentang "Mengapa Saya Menulis?". Mohon disimak yah, tapi kalau kalian bosan silakan cari artikel lain di blog ini. Tapi, semoga kalian membaca sampai akhir. 😁

***
 
Satu hari ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya menemukan sebuah buku menarik yang dibuang oleh pemiliknya di tumpukan sampah. Buku itu berisi kumpulan cerita pendek untuk anak-anak. Cerita yang masih saya ingat sampai sekarang adalah tentang seorang anak perempuan yang hanyut terbawa arus Sungai dan ditolong oleh seorang anak laki-laki yang kebetulan baru pulang usai mencari kayu bakar. Akhir dari cerita tersebut sangat membekas di benak saya hingga saat ini.
Setiap kali saya membaca cerita itu, saya pun membayangkan bahwa saya juga melihat langsung kejadian demi kejadian dalam cerita itu. Setiap hari saya ulangi membaca buku tersebut tanpa bosan, setiap pulang sekolah, sebelum tidur, bahkan saat saya bosan, saya akan kembali membacanya. Buku itu merupakan buku cerita pertama yang saya miliki. Orang tua saya tidak mampu membelikan saya buku cerita kala itu, jadi bahan bacaan saya amat kurang.
sampai pada satu kejadian yang membuat saya harus kehilangan buku itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan kehilangan yang teramat dalam hanya karena sebuah buku. Nasib memiliki adik kecil yang jail, buku itu pun harus jadi korban. Kalian yang punya adik mungkin bisa paham apa maksudku.
Beberapa minggu setelahnya saya menemukan buku baru yang bentuknya mirip dengan buku itu, tapi isi dalam buku itu tentang bagaimana membuat pola menjahit baju, rok dan banyak lagi. Di setiap lembar halaman dalam buku itu terdapat halaman kosong, dan dengan tangan jahil saya, buku itu pun penuh dengan coretan. Saya menggambar kartun, pemandangan dan masih banyak lagi. Buku itu sedikit mengobati rasa kesepian dan kebosanan saya di masa kecil.
Terakhir kali saya melihat buku itu ketika masih duduk di bangku SMA, dalam buku itu saya sempat menulis sebuah dongen. Saya pun lupa kapan saya menulis dongeng tersebut. Ayah saya pun sempat membaca  dongeng yang saya buat. Beliau memuji cerita yang saya buat, dan sejak saat itu saya pun berkeinginan menjadi seorang penulis.
Kini saya sadar bahwa dengan menulis saya bisa menyampaikan apapun yang tidak bisa saya ungkapkan dengan lisan. Semakin dewasa, saya merasa public speaking saya tidak baik, namun tidak dengan menulis.
Menulis adalah jadi diri saya. Segala buah pemikiran yang ada di kepala ini akan tersalurka dengan baik saat saya menulis. Selain karena impian, saya menulis karena itulah jati diri saya.
Sekarang saya ingin bertanya, apakah kalian sudah menemukan potensi dalam diri kalian? Kalau sudah, teruslah kembangankan. Kalau belum, semnagatlah mencari.
Kenapa itu penting?
"Karena POTENSI adalah JATI DIRI kita yang sesungguhnya."
 
Teruslah berusaha, jangan patah semangat. Tuhan menciptakan kita pasti dengan kelebihan, percayalah.

24 Oktober 2019

Tentang Kematian

Posted by Kayuya on 17.42.00 with No comments
Tentang Kematian
Oleh : Kayuya





Kunantikan waktumu habis
Lalu aku pun kan datang menjemut
Kuperhatikan apa saja yang kau lakukan
Adakah pernah kau melakukan kesalahan?

Tidak!
Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup
Sabarlah menanti aku datang menghampiri
Berbahagialah menyaksikan bintang-bintang

Tidak!
Jangan pernah kau merintih sedih
Semua memiliki balasannya kelak
Tersenyumlah secerah sang mentari

Aku penjagamu
Yang selalu menjagamu
Setia menanti engkau datang
Di sini
Tempat peraduan terakhirmu


Makassar, 15 Januari 2016

23 Oktober 2019

Aku Manusia

Posted by Kayuya on 23.08.00 with No comments
Aku Manusia
Oleh : Kayuya


Aku manusia

Manusia yang tidak mampu memanusiakan manusia

Setelah membunuh jiwa,
Aku berlalu pergi seolah tak ada yang terjadi

Aku manusia

Tapi tidak mampu memanusiakan manusia
Aku tidak peduli apa yang mereka rasa
Karena mereka pun berlaku sama

Wajah terbungkus topeng
Ucapan setajam pedang
Sikap sedingin es

Aku manusia

Manusia yang tidak mampu memanusiakan manusia


Makassar, 20 oktober 2019

21 Oktober 2019

Zat Pewarna

Posted by Kayuya on 10.06.00 with No comments

Zat Pewarna
Oleh : Kayuya


 
Picture by ; batikrozan.com


A. Pengertian Zat Pewarna

Menurut Peraturan Mentri kesehatan No. 722/MENKES/PER/IX/88 tentang bahan tambahan makannan, “Pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memeperbaiki atau memberi warna pada makanan. (Lembaran Negara,1992). Penggunaan pewarna bertujuan untuk memperkuat warna asli dan memberikan tampilan makanan lebih menarik”.

FDA mendefinisikan pewarna tambahan sebagai pewarna, zat warna atau bahan lain yang dibuat dengan cara sintetik atau kimiawi atau bahan alami dari tanaman, hewan, atu sumber lain yang diekstrak, ditamambahkan atau digunakan ke bahan makanan, obat, atau kosmetik, bisa menjadi bagian dari warna bahan tersebut.

Selain sebagai faktor yang ikut menentukan mutu, warna juga dapat digunakan sebagai indikator kesegaran atau kematangan. Baik tidaknya cara pencampuran atau cara pengolahan dapat ditandai dengan adanya warna yang seragam dan merata. Warna suatu bahan dapat diukur menggunakan alat kolorimeter, spektrofotometer atau alat‐alat lain yang dirancang khusus untuk mengukur warna. Tetapi peralatan tersebut terbatas penggunaannya untuk bahan cair yang tembus cahaya seperti sari buah, bir atau warna hasil ekstraksi. Untuk bahan bukan cairan atau padatan, warna diukur dengan membandingkannya terhadap suatu warna standar yang dinyatakan dengan angka‐angka
.
Ada lima sebab yang dapat menyebabkan suatu bahan makanan berwarna yaitu:
  1. Pigmen yang secara alami terdapat pada tanaman dan hewan misalnya klorofil berwarna hijau, karoten berwarna jingga dan mioglobin menyebabkan warna merah pada daging.
  2. Reaksi karamelisasi yang timbul bila gula dipanaskan membentuk warna coklat, misalnya warna coklat pada kembang gula karamel atau roti yang dibakar.
  3. Warna gelap yang timbul karena adanya reaksi Malliard, yaitu antara gugus amino protein dengan gugus karbonil gua pereduksi; misalnya susu bubuk yang disimpan lama akan berwarna gelap
  4. Reaksi antara senyawa organik dengan udara akan menghasilkan warna hitam, atau coklat gelap (browning). Reaksi oksidasi ini dipercepat oleh adanya logam atau enzim; misalnya warna gelap permukaan apel atau kentang yang dipotong.
  5. Penambahan zat warna, baik alami mau pun sintetik.
  6.  
     

B. Sifat-sifat Pewarna

1. Pewarna Alami
  • Larut dalam air Contoh: Karamel, Anthosianin, Flavonoid, Leucoantho sianin, Tannin, Batalain, Quinon, Xanthon, dan Heme.
  • Larut dalam Lemak Contoh : Karotenoid
  • Larut dalam lemak dan air Contoh : klorofil
  • Stabil terhadap panas Contoh: Karamel, Flavonoid, Leucoantho sianin, Tannin, Quinon, Xanthon dan karotenoid
  • Sensitif terhadap panas Contoh : Anthosianin, Batalain, klorofil dan Heme.
2. Pewarna Buatan
  • Larut dalam air Contoh : Sunset yellow, Tartazine, Brilliant Blue, Carmosine, Erythrosine, Fast Red E, Amaranth, Imdigo Carmine, dan Ponceau 4R
  • Tidak larut dalam air Contoh : Rhodamon B, dan  Methanil Yellow
  • Warnanya Homogen

C. Sumber Zat Pewarna

1. Pewarna alami
 Pewarna alami adalah bahan pewarna yang berasal dari alam. Biasanya pewarna alam ini berasal dari tanaman dan hewan, misalnya kunyit, daun suji, daun pandan, daun jambu, dan sebagainya.

Daun suji (pewarna hijau) telah lama di gunakan untuk mewarnai kue pisang, serabi dan dadar gulun. Kunyit (pewarna kuning) untuk mewarnai nasi kuning, tahu serta hidangan lainnya. Daun jambu atau daun jati untuk pewarna merah.

2. Pewarna Buatan 
Sumber pewarna yang lain adalah sumber pewarna buatan yang mempunyai kelebihan yaitu warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah yang sangat sedikit. Akan tetapi kekurangannya adalah jika pada saat proses terkontaminasi logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya.

Proses pewarnaan zat sintetik biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang seringkali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Untuk zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan arsen tidak boleh lebih dari 0,00014% dan timbal tidak boleh dari 0,001% sedangkan logam berat lainnya tidak boleh ada.

Pewarna terlarang yang masih sering di pakai adalah Orange RN, Auramine, Rodamine B dan methanyl Yellow. Timbulnya penyalahgunaan zat pewarna tersebut disebabkan karena tidak adanya penjelasan dalam label yang melarang penggunaan senyawa tersebut untuk bahan pangan. Disamping itu, harga zat pewarna untuk industri relatif lebih murah dibandingkan dengan harga zat pewarna untuk makanan dan biasanya warnanya lebih menarik.

D. Penggolongan Pewarna

1. Pewarna Alami
Adapun menurut winarno (1997) yang tergolong kedalam pewarna alami di antaranya adalah:
  • Klorofil adalah zat warna alami hijau yang umumnya terdapat pada daun sehingga sering disebut zat warna hijau daun.
  • Miglobin dan haemoglobin ialah zat wara merah pada daging yang tersususn oleh protein globin dan heme yang mempunyai inti zat besi.
  • Karotenoid merupakan  kelmpok pigmen yang berwarna kuning, orange, merah orange yang terlarut dalam lipida (minyak), berasal dari tanaman atau hewan.Anthosianin dan anthoxanthin tergolong pigmen yang disebut flavonoid yang pada umumnya larut dalam air. warna pigmen anthosianin merah, biru, violet, dan biasanya terdapat pada bunga, buah–buahan, dan sayur–sayuran.
  • Antoxantin termasuk kelompok pigmen flavonoid yang bewarna kuning dan larut dalam air. Antoxantin banyak terdapat dalam lendir sel daun yang kebanyakan tidak digunakan sebagai makanan.
Yang termasuk kedalam Uncertified Color ini adalah zat pewarna alami (ekstrak pigmen dari tumbuh – tumbuhan) dan zat warna mineral. Zat- zat pewarna yang termasuk Uncertified color adalah :
Karotenoid sebagai pewarna
  • Golongan karoten menghasilkan warna jingga sampai merah dan dapat larut dalam minyak. Zat-zat ini di gunakan untuk mewarnai produk-produk minyak dan lemak seperti margarin dan minyak goreng.
Biksin
  • Biksin larut dalam lemak, sedangkan non-biksin larut dalam air, dan warna yang di hasilkan adalah kuning warna buah persik. Biksin sering di gunakan untuk mewarnai mentega, margarin, minyak jagung, dan salab dressing.

Karamel
  • Karamel berbentuk amorf yang bewarna coklat gelap dan dapat diperoleh dari pemanasan yang terkontrol terhadap molase,hidrolisat pati, dekstrosa, gula invert, laktosa, sirup malt, dan sukrosa
Titanium Oksida
  • Titanium Oksida berwarna putih. Dalam bentuk kasar atau mutu rendah titanium oksida sebagai warna dasar cat rumah. Secara tersendiri, titanium oksida digunakan dalam sirup yang dipakai untuk melapisi tablet obat. penggunaan titanium oksida diizinkan sejak tahun 1966 dengan batas 1% dari berat badan.
Cochineal, Karmin, dan Asam Karminat
  • Cochineal adalah zat berwarna merah yang diperoleh dari hewan coccus cacti betina yang dikeringkan. Zat pewarna yang terdapat di dalamnya adalah asam karminat. Karmin diperoleh dengan cara mengekstrasi asam karminat. Karmin digunakan untuk melapisi bahan berprotein dan memberikan lapisan warna merah pada jambu.


2. Pewarna Sintesis
Yang termasuk zat pewarna buatan yaitu golongan Certified Color. Adapun yang termasuk golongan Certified Color yaitu :
.
1. Dyes
Dyes adalah zat pewarna yang umumnya bersifat larut dalam air, sehingga larutannya menjadi berwarna dan dapat digunakan untuk mewarnai bahan. Dyes terdapat dalam benuk bubuk, granula, cairan, campuran warana, pasta, dan disperse. Zat warna yang stabil  untuk berbagai macam penggunaan dalam makanan.

Konsentrasi pemakaianya tidak dibtasai secara khusus, tetapi di Amerika Serikat disaraankan agar digunakan dengan memperhatikan Good Manufacturing Practices (GMP), yang apada prinsipnya dapat digunakan dalam jumlah yang tidak melebihi keperluan untuk memeperoleh efek yag diinginkan, jadi rata–rata kurang dari 300ppm. Tetapi, dalam prakteknya ternyata digunakan konsentrasi antara 5–500ppm.
.
2. Lakes
Zat pewarna ini di buat melalui proses pengendapan dan absorpsi dyes pada radikal basa (Al atau Ca) yang dilapisi dengan alumunium hidrat (Alumina). Lapisan alumina ini tidak larut dalam air, sehingga lakes ini tidak larut pada hampir semua pelarut. Pada pH 3,5 sampai dengan 9,5 lakes stabil. Lakes pada umumnya mengandung 10-40% dyes murni, sifatnya tidak larut dalam air dan lebih stabil terhadap pengaruh cahaya, kimia, dan panas. Pemakaian lakes dapat dilakukan dengan cara mendispersikan zat warna tersebut dengan serbuk makanan sehingga pewarnaan akan terjadi.
.
3. FD (Food Drag) dan C-Dye (Cosmetic Act Dye)
FD (Food Drag) dan C-Dye (Cosmetic Act Dye) Dye terbagi atas 4 kelompok, yaitu:
  1. 1. Azo dye, terdiri dari:
    • FD & C Red No. 2 (Amaranth) termasuk golongan manazo yang mempunyai satu ikatan N=N. Amaranth berupa tepung berwarna merah kecoklatan yang mudah larut dalam air menghasilkan larutan berwarna merah lembayung atau merah kebiruan
    • .FD & C Yellow No. 5 (Tertrazine) Merupakan tepung berwarna kuning jingga yang mudah larut dalam air, dengan larutannya berwarna kuning keemasan.
    •  FD & C Yellow No. 6 (sunset yellow) termasuk golongan manazo, berupa tepung berwarna jingga, sangat mudah larut dalam air, dan menghasilkan larutan jingga kekuning–kuningan.
    • FD & Red No 4 (panceau sx) yaitu berupa tepung merah, mudah larut dalam air , dan memberikan larutan berwarna merah jingga.
  1. 2. Triphenylmethane dye, terdiri dari: 
    • FD & blue no.1 (briliant blue) Zat pewarna ini termasuk triphenylmethane dye, merupakan tepung berwarna ungu perunggu. bila dilarutkan dalam air menghasilkan warna hijau kebiruan, larut dalam glikol dan gliserol, agak larut dalam alkohol 95 %.
    • FD & green no.3 (fast green) Tepung zat warna ini berwarna ungu kemerahan atau ungu kecoklatan dan bila dilarutkan dalam air menghasilkan warna hijau kebiruan
    • FD & Violet no. 1 (benzylviolet) Zat warna ini berbentuk tepung berwarna ungu, larut dalam air, gliserol, glikol, dan alkohol 95 %. menghasilkan warna ungu cerah. tidak larut dalam minyak dan eter.
4. Sulfonated indigo
Sulfonated Indigo terdiri dari FD & Blue no. 2 (indigotin indigo carmine). Indigotine merupakan tepung berwarna biru, coklat, kemerah – merahan, mudah larut  dalam air dan larutannya berwarna biru.
.
5. Fluorescein
Fluorescein terdiri dari FD & C red No.3 (Erythrosine) Zat pewarna ini termasuk golongan fluorescein. berupa tepung coklat, larutannya dalam alkohol 95% menghasilkan warna merah yang berfluoresensi, sedangkan larutannya dalam air berwarna merah cherry tanpa fluoresensi


E. Konsentrasi Zat Pewarna

Penggunaan zat pewarna di Indonesia cenderung disalahgunakan sehingga pemakaian zat pewarna untuk sembarang bahan pangan. Misalnya bahan pewarna tekstil yang dipergunakan untuk mewarnani bahan makanan. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan karena adanya residu logam berat pada zat pewarna tersebut. Timbulnya penyalahgunaan zat pewarna tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakaat mengenai zat pewarna untuk makanan.
Penggunaan pewarna yang aman pada makanan telah diatur melaui peraturan Menteri Kesehatan yang mengatur mengenai pewarna yang dilarang digunakan dalam rnakanan, pewarna yang diizinkan serta batas penggunaannya, termasuk penggunaan bahan pewarna alami. Tetapi masih banyak produsen makanan, terutama pengusaha kecil, yang menggunakan bahan‐bahan pewarna yang dilarang dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya pewarna untuk tekstil atau cat. Hal ini disebabkan pewarna tekstil atau cat umumnya mempunyai warna lebih cerah, lebih stabil selama penyimpanan, serta harganya lebih murah, dan produsen pangan belum mengetahui dan menyadari bahaya dari pewarna‐pewarna tersebut.
Beberapa pewarna terlarang dan berbahaya yang sering ditemukan pada makanan, terutama makanau jajanan, adalah Metanil Yellow (kuning metanil) yang berwarna kuning, dan Rhodamin B yang berwarna merah. Bahan pewarna kuning dan merah tersebut sering digunakan dalam pembuatan berbagai macam makanan seperti sirup, kue‐kue, agar, tahu, pisang dan tahu goreng dan lain‐lain. Kedua pewarna ini telah dibuktikan menyebabkan kanker yang gejalanya tidak dapat terlihat langsung setelah mengkonsumsi, oleh karena itu dilarang digunakan di dalam makanan walaupun dalam jumlah sedikit.
Alternatif lain untuk menggantikan penggunaan pewarna sintetetis adalah dengan menggunakan pewarna alami seperti ekstrak daun pandan atau daun suji, kunyit, dan ekstrak buah‐buahan yang pada umumnya lebih aman. Akan tetapi penggunaan bahan pewarn alami juga ada batasannya sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan sebagai berikut.

JENIS ZAT, WARNA NAMA & NOMOR INDEKS
Zat Warna Alam
  • Merah Alkanat - 75520
  •  Cochineal red (karmin) - 75470
  •  Kuning karoten - 75130
  •  Kurkumin - 75300
  •  Safron - 75100
  •  Hijau Klorofil - 75810
  •  Biru Ultramarin - 77007
  •  Coklat Karamel-Hitam Carbon black - 77_66
  •  Besi oksida - 77499 
  • Putih Titanium dioksida - 77891
Zat Warna Sintetik
  • Merah Carmoisine - 14720 
  • Amaranth - 16185 
  • Erythosim - 45430
  •  Orange Sunsetyellow FCF - 15985
  •  Kuning Tartrazine - 19140
  •  Quineline Yellow - 47005
  •  Hijau Fast green FC - 42053
  •  Biru Brilliant blue FCF - 42090 
  • Indigocarmine (indigotine) - 42090 
  • Violet GB - 42640
Sumber : Direktorat Pengawasan Makanan dan Minuman (1978)
Hingga saat ini aturan penggunaan zat pewarna di Indonesia diatur dalam SK menteri kesehatan RI tanggal 22 Oktober 1973 No. 11332/A/SK/73, tetapi dalam peraturan tersebut belum dicantumkan tentang dosis penggunaannya dan tidak ada sanksi bagi pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

  • Anonim. 2010. Bahan Aktif Makanan Dan Pengaruhnya Bagi Kesehatan Manusia.http://www.wordpress.com. Diakses pada tanggal 26 Desember 2017.
  • Azwar, A. 1995. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara Sumber Widya, Jakarta.
  • Baliwati, dkk. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Penebar Swadaya, Jakarta.
  • Cahyadi,W. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta.
  • Hardiansyah,dkk. 2001. Pengendalian Mutu dan Keamanan Pangan. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
  • Julisti, Bertha. 2010. Warna dalam Bahan Pangan. http://btagallery.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 25 Desember 2017.
  • Moehji, S. 1992. Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Jasa Boga. Bhratara, Jakarta.
  • Novia, DRM. 2010. Mewaspadai Pewarna Makanan. http://www.mirror.unpad.ac.id. Diakses pada tanggal 26 Desember 2017.

27 Januari 2019

Senja yang Kemarin

Posted by Kayuya on 02.59.00 with No comments

Senja yang Kemarin
Oleh : Kayuya

Selamat pagi teruntuk senja yang kemarin
Semoga mentari ikut meninggikan harapan tiap tetes embun
Semoga angin menerbangkan aroma duka ilalang
Jauh ...
Jauh ...
Sampai tak tampak oleh pelupuk mata

Telah lelah dedaunan menahan rinti pilu senja yang kemarin
Telah capai akar menopang batang pohon yang kokoh
Namun hanya terlihat kokoh

Teramat ingin ia bercerita
Betapa perihnya dianggap mati
Nyatanya hidup jua
Telah lelah memberikan semua hal terbaik
Tetapi dianggap tak gerguna jua
Sangat sakit jika hanya dianggap pelampiasan dikala marah
Tempat berteduh dikalah panas
Dicampakkan saat tidak lagi berguna

Itukah nasih sebuah pohon ditepi jalan?
Menyapa pagi untuk senja yang kemarin
Pilu ...

Makassar, 26 Januari 2019

29 Desember 2018

Media Pertumbuhan Mikroba

Posted by Kayuya on 16.46.00 with No comments

MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA
Oleh : Kayuya




Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi (nutrient) yang digunakan oleh suatu mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembangbiak pada media tersebut. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi pada media berupa molekul-molekul kecil yang dirakituntuk menyusun komponen sel-nya. Dengan media pertumbuhan juga bisa digunakan untuk mengisolasi mikroorganisme, identifikasi dan membuat kultur murni. Komposisi media pertumbuhan dapat dimanipulasi untuk tujuan isolasi dan identifikasi mikroorganisme tertentu sesuai dengan tujuan masing-masing pembuatan suatu media. Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient) yang berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan mempergunakan bermacam-macam media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba.

A. MACAM-MACAM MEDIA


Media untuk kultur bakteri dalam mikrobiologi ada banyak jenisnya dan dapat menjadi tiga kelompok besar berdasarkan bentuk, komposisi/susunannya.

1. Berdasarkan Bentuknya

Bentuk media ada tiga macam yang dapat dibedakan dari ada atau tidaknya bahan tambahan berupa bahan pemadat seperti agar-agar atau gelatin. Bentuk media tersebut yaitu:

a. Media Padat
Media padat merupakan media yang mengandung banyak agar atau zat pemadat kurang lebih 15% agar sehingga media menjadi padat. Media ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis menurut bentuk dan wadahnya yaitu, media tegak, media miring, dan media lempeng. Media tegak menggunakan tabung reaksi yang ditegakkan sebagai wadahnya, media miring menggunakan tabung reaksi yang dimiringkan, sedangkan media lempeng menggunakan petridish (plate) sebagai wadahnya. Media ini umumnya digunakan untuk pertumbuhan koloni bakteri atau kapang. Kalau ke dalam media ditambahkan antara 10-15 gram tepung agar-agar per 1000ml media. Jumlah tepung agar-agar yang ditambahkan tergantung kepada jenis atau kelompok mikroba yang dipelihara. Kalau ke dalam media tidak ditambahkan zat pemadat, umumnya dipergunakan untuk pembiakkan mikroalga tetapi juga mikroba lain, terutama bakteri dan ragi. Ada yang memerlukan kadar air tinggi sehingga jumlah tepung agar-agar rendah. Tetapi ada pula yang memerlukan kandungan air rendah sehingga penambahan tepung agar-agar haru sedikit. Media padat umumya dipergunakan untuk bakteri, ragi, jamur dan kadang-kadang juga mikroalga.

b. Media semi padat
Media semi padat atau semi cair merupakan media yang mengandung agar kurang dari yang seharusnya kurang lebih 0,3% - 0,4% sehingga media menjadi kenyal, tidak padat dan tidak begitu cair. Umumnya digunakan untuk pertumbuhan mikroba yang banyak memerlukan air dan hidup anerobik dan untuk melihat pergerakan mikroba.Kalau penambahan zat pemadat hanya 50% atau kurang dari yang seharusnya. Ini umumnya diperlukan untuk pertumbuhan mikroba yang banyak memerlukan kandungan air dan hidup anaerobic atau fakultatif.

c.Media cair
Media cair merupakan media yang tidak ditambahi bahan pemadat, umumnya digunakan untuk pertumbuhan mikroalga. Kalau ke dalam media tidak ditambahkan zat pemadat, umumnya dipergunakan untuk pembiakkan mikroalge tetapi juga mikroba lain, terutama bakteri dan ragi.

2. Berdasarkan Komposisi/Susunannya

Berdasarkan komposisinya media di bagi atas :

  1. Media alami/non sintetis merupakan media yang disusun dari bahan-bahan alami dimana komposisinya yang tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya seperti: kentang, tepung, daging, telur, ikan sayur, dsb. Contohnya: Tomato juice agar.
  2. Media semi sintesis merupakan media yang disusun dari bahan-bahan alami dan bahan-bahan sintesis. Contohnya: Kaldu nutrisi disusun dari :Pepton  10,0 g, Ekstrak daging 10,0 g, NaCl 5,0 g, dan Aquadest 1000 ml.
  3. Media sintesis, yaitu media yang disusun dari senyawa kimia yang jenis dan takarannya diketahui secara pasti. Contohnya : Mac Conkey Agar.


Berdasarkan bentuk:

  1. Media alami, yaitu media yang disusun oleh bahan-bahan alami seperti kentang, tepung, daging, telur, ikan, umbi-umbian lainnya dan sebgainya. Pada saat sekarang 
  2. Media alami yang banyak dipergunakan adalah dalam kultur jaringan tanaman maupunm hewan. Media untuk budidaya mikroorganisme memiliki sumber karbon untuk dimasukkan ke dalam biomassa.  Kalau ke dalam media tidak ditambahkan zat pemadat, umumnya dipergunakan untuk pembiakkan mikroalge tetapi juga mikroba lain, terutama bakteri dan ragi. Contoh media alami yang paling banyak dipergunakan adalah telur untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan virus
  3. Media semi sintetik yaitu media yang tersusun oleh campuran bahan-bahan alami dan bahan-bahan sintetis.
  4. Media sintetik yaitu media yang disusun oleh senyawa kimia seperti media untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan bakteri clostridium tersusun oleh: 
  • K2HPO4                : 0,5 g 
  • KH2PO4                : 0,5 g 
  • MgSO4.7H2O        : 0,1 g 
  • NaCl                     : 0,1 g 
  • FeSO4.7H2O         : 0,01 g 
  • MnSO4,7H2O        : 0,01 g 
  • CaCO3                   : seangin

Berikut ini beberapa media yang sering digunakan secara umum dalam mikrobiologi:

a. Lactose Broth
Lactose broth digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran koliform dalam air, makanan, dan produk susu, sebagai kaldu pemerkaya (pre-enrichment broth) untuk Salmonellae dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri pada umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk memetabolisme bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi untuk organisme koliform.

b. EMBA (Eosin Methylene Blue Agar)
Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasikan laktosa seperti S. aureus, P. aerugenosa, dan Salmonella. Mikroba yang memfermentasi laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. 

c. Nutrient Agar
Nutrien agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni.

d. Nutrient Broth
Nutrient broth merupakan media untuk mikroorganisme yang berbentuk cair. Intinya sama dengan nutrient agar. 

e. MRSA (deMann Rogosa Sharpe Agar)
MRSA merupakan media yang diperkenalkan oleh De Mann, Rogosa, dan Shape (1960) untuk memperkaya, menumbuhkan, dan mengisolasi jenis Lactobacillus dari seluruh jenis bahan. MRS agar mengandung polysorbat, asetat, magnesium, dan mangan yang diketahui untuk beraksi/bertindak sebagai faktor pertumbuhan bagi Lactobacillus, sebaik nutrien diperkaya.

f. Trypticase Soy Broth (TSB)
TSB adalah media broth diperkaya untuk tujuan umum, untuk isolasi, dan penumbuhan bermacam mikroorganisme. Media ini banyak digunakan untuk isolasi bakteri dari spesimen laboratorium dan akan mendukung pertumbuhan mayoritas bakteri patogen. Media TSB mengandung kasein dan pepton kedelai yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen lainnya yang membuatnya menjadi media bernutrisi untuk bermacam mikroorganisme.  

g. Plate Count Agar (PCA)
PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas permukaan. Media PCA ini baik untuk pertumbuhan total mikroba (semua jenis mikroba) karena di dalamnya mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast mensuplai vitamin B kompleks.

h.  Potato Dextrose Agar (PDA)
PDA digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dapat juga digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk makanan. PDA cocok untuk pertumbuhan jamur. PDA mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri. 

B. JENIS-JENIS MEDIA

Berdasarkan fungsinya, media dapat dibedakan menjadi:

  1. Media Basal (media dasar) adalah media yang digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat media lain yang lebih kompleks. Media ini dapat mendukung pertumbuhan hampir semua jenis mikrobia, contohnya adalah nutrient broth, kaldu pepton, dsb.
  2. Media diferensial adalah media yang bila ditumbuhi oleh mikroba yang berbeda, mikroba tersebut akan tumbuh dengan ciri khusus sehingga dapat dibedakan. Contohnya: Media Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Media Sulfit Indol Motility (SIM), dsb. Dan media differensial merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan kimia atau reagensia tertentu yang menyebabkan mikroba yang tumbuh memperlihatkan perubahan-perubahan spesifik sehingga dapat dibedakan dengan jenis lainnya.
  3. Media selektif adalah media yang memungkinkan suatu jenis mikroba tumbuh dengan pesat, sementara jenis mikroba yang lain terhambat. Contohnya: Media Salmonella Shigella Agar (SSA), Thiosulphate Citrate Bile Salt (TCBS), dsb. Dan media selektif, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan tertentu yang akan menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan yang ada dalam suatu spesimen. Inhibitor yang digunakan berupa antibiotik, garamk dan bahan-bahan kimia lainnya.
  4. Media diperkaya (enrichment) adalah media yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Media tersebut memiliki konstituen nutrisi yang mendorong pertumbuhan mikroba tertentu. Contohnya: kaldu selenit, atau kaldu tetrationat untuk memisahkan bakteri Salmonella thyposa dari tinja. Dan media diperkaya (enrichment media), media yang ditambahkan bahan-bahan tertentu untuk menstimulasi pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Hal ini dilakukan untuk menstimulasi pertumbuhan mikroba yang jumlahnya sedikit dalam suatu campuran berbagai mikroba contoh Chocolate media dan Yeast-Extract-poptasium Nitrat Agar.
  5. Media pengkayaan adalah media ini umumnya mengandung bahan-bahan tertentu yang di satu pihak dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu,tetapi di lain pihak sebaliknya dapat menunjang pertumbuhan bakteri tertentu lainnya.misalnya media muller-kauffman mengandung natrium tetrationat yang menunjang pertumbuhan salmonella tetapi menghambat pertumbuhan Escherichia.
  6. Media uji (identifikasi) adalah media yang digunakan untuk identifikasi mikroba, medium litmus milk.umumnya ditambah dengan substansi tertentu yang menjadi indikator, misalnya 
  7. Medium umum, media yang ditambahkan bahan-bahan yang bertujuan menstimulasi pertumbuhan mikroba secara umum. Contoh Nutrien Agar (NA) untuk menstimulasi pertumbuhan bakteri, Potato Dextose Agar (PDA) untuk menstimulir pertumbuhan fungi.
  8. Medium khusus(spesifik), merupakan medium untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu misalnya, medium tetes tebu untuk Saccharomyces cerevisiae.
  9. Medium penguji (Assay medium), yaitu medium dengan susunan tertentu yang digunakan untuk pengujian senyawa-senyawa tertentu dengan bantuan bakteri misalnya medium untuk menguji vitamin-vitamin, antibiotika dan lain-lain.
  10. Medium perhitungan jumlah mikroba yaitu medium spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan, misalnya medium untuk menghitung jumlah bakteri E. coli air sumur.